Olahraga Berjaya, Rakyat Merana, Kebijakan Negara Payah

- Wartawan

Kamis, 25 Mei 2023 - 20:35 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zahra Riyanti: Mahasiswa Pascasarjana MMPT UGM

Zahra Riyanti: Mahasiswa Pascasarjana MMPT UGM

Zahra Riyanti: Mahasiswa Pascasarjana MMPT UGM

Perhelatan olahraga terbesar di asia ‘Sea Games’ yang terselenggara di Kamboja baru saja berakhir. Dalam rangka mensukseskan segala atribut acaranya termasuk biaya penghargaan para pemenang pemerintah rela merogoh kantong negara sebesar Rp.852,2 Miliar, jumlah yang terbilang besar ini akhirnya menjadi pembicaraan dan sorotan publik. 

Kementerian keuangan Sri Mulyani menuturkan  bahwasanya olahraga akan menjadi sektor prioritas utama pemerintah yang akan menjadi fokus APBN dan ini menjadi komitmen final dalam jangka panjang pemerintah. 

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adapun rincian estimasi dana dari total pengeluaran fantastis diatas yaitu Rp 522 miliar untuk pembinaan atlet-atlet sebelum berlaga di multi-event internasional, Rp55,2 miliar untuk bantuan pengiriman kontingen menuju Kamboja. Rp275 miliar untuk pemberian bonus bagi peraih medali (atlet/pelatih/asisten pelatih) SEA Games ke-32.

Selain itu  pemerintah juga telah menggelontorkan dana besar untuk bonus bagi peraih medali pada event olahraga  Olimpiade di Tokyo 2020 lalu, pemerintah memberikan bonus yang sangat luar biasa kepads para pemain. Bagi yang meraih medali emas akan mendapatkan bonus Rp5,5 miliar per orang, sedangkan pelatihnya mendapatkan bonus Rp2,5 miliar (Situs Kemenpora, 13-8-2021).  akan mendapatkan bonus Rp5,5 miliar per orang, sedangkan pelatihnya mendapatkan bonus Rp2,5 miliar (Situs Kemenpora, 13-8-2021). 

Bonus yang tersebut menunjukkan bahwa olahraga merupakan sektor yang dianggap utama sehingga perlu diprioritaskan. Pemerintah benar benar all out dalam memberikan dukungan, termasuk dukungan anggaran.

Padahal, olahraga bukanlah sektor utama yang dibutuhkan masyarakat sebab yang menjadi kebutuhan primer manusia adalah sandang, pangan, papan yang saat ini masih acakadut untuk diperhatikan. Memang betul, olahraga adalah penting untuk kesehatan masyarakat. Namun, mengikuti event internasional hingga menghabiskan anggaran ratusan miliar  tidak akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, tetapi lebih pada meraih kebanggaan saja.

Alih alih ingin membanggakan negara dengan sektor olahraga status perekonomian Indonesia justru jauh panggang dari stabilitas dan kemakmuran. Padahal Ekonomi sebagai sebuah Sektor urgen yang menentukan hidup mati masyarakat seperti saat ini yang kita temukan tingginya angka gizi buruk, merebaknya kelaparan hingga stunting malah justru kurang mendapat perhatian. 

BACA JUGA :  Rinai Kerinduan

Berdasarkan laporan The State of Food Security and Nutrition in the World yang dirilis Food and Agriculture Organization (FAO), pada 2021, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penduduk kurang gizi tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah penduduk Indonesia yang kekurangan gizi mencapai 17,7 juta jiwa. Ini merupakan jumlah yang besar. 

Tidak hanya orang dewasa, balita juga mengalami kurang gizi. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018, sebanyak 17,7% balita di Indonesia masih mengalami masalah gizi. Angka tersebut terdiri dari balita yang menderita gizi buruk sebesar 3,9% dan yang mengalami gizi kurang sebesar 13,8%. (Katadata, 25-1-2019).

Stunting juga masih menjadi masalah krusial negeri ini. Bank Pembangunan Asia (ADB) melaporkan bahwa prevalensi anak penderita stunting usia di bawah lima tahun di Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara. (Good Stats, 25-3-2023).

Bahkan, kemiskinan ekstrem masih banyak terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), pada 2021, tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia mencapai 4% atau 10,86 juta jiwa. 

Selain problem kemiskinan dan gizi buruk pada anak anak, di bidang infrastruktur juga masih banyak masalah yang butuh diprioritaskan diantaranya jalan rusak, banyaknya sekolah kumuh, minimnya TPA sampah dan kebutuhan rakyat lainnya dimana ini yang lebih dibutuhkan dan utamanya menyangkut keselamatan dan ketentraman masyarakat.

Berdasarkan laporan Statistik Transportasi Darat 2021 dari Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 87.454 km jalan di Indonesia rusak (16,01%) dan 86.844 km lainnya rusak berat (15,9%). Secara kumulatif, panjang jalan yang rusak mencapai 174.298 km (31,91%) pada 2021 (Katadata, 17-4-2023). 

Ini menunjukkan bahwa masih banyak sektor di negeri ini yang harus diprioritaskan dan butuh dianggarkan. Bisa jadi selama ini dana yang dikucurkan sudah triliunan rupiah, tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penerima program yang mencapai jutaan orang, juga dari aspek belum terselesaikannya problem tersebut, anggaran tersebut jelas masih sangat kurang.

Harusnya sektor-sektor inilah yang mendapatkan perhatian besar dari pemerintah dan diprioritaskan dalam pemberian sokongan anggaran. Bukan justru menjadikan kemiskinan di nomor kesekian, sedangkan pemerintah hanya sibuk mengejar prestise semata sebagaimana pada SEA Games.

BACA JUGA :  Cantik dengan Perlawanan

Islam dengan institusinya telah terbukti secara historis mampu membawa umat manusia pada level tak tertandingi pada masanya menjadi mercusuar di antara berbagai bangsa dan umat sehingga kehidupan Islam penuh dengan ambisi dan cita-cita agung nan mulia, yakni dengan dakwah dan jihad. Hal ini guna mengemban dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia.

Oleh karena itu sektor olahraga pun turut diatur oleh Islam  yakni ketika Nabi memerintahkan umat Islam belajar berenang, berkuda, dan memanah, tujuannya hanya dua, yaitu menjaga kebugaran tubuh agar tetap sehat dan menempa kekuatan fisik untuk persiapan jihad di jalan Allah. Hanya itu, tidak yang lain.

Dasarnya adalah firman Allah Swt., “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang mampu kalian upayakan.” (QS Al-Anfal: 60). Juga sabda Rasulullah, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah, daripada orang mukmin yang lemah.”

Demikianlah Olahraga tidak diposisikan sebagai sarana pamer dan meraih popularitas di kancah internasional. Olahraga juga bukan untuk mendapatkan medali, harta, gengsi, prestise, atau alasan klise mengharumkan negara di mata dunia yang sangat bersifat duniawi dan materialistik tapi semata mata mendapatkan kebaikan yang banyak untuk disumbangsihkan pada kemaslahatan Islam. Berbeda dengan sistem sekuler kapitalisme hari ini. 

Olahraga didesain menjadi salah satu industri penting untuk mewujudkan ambisi dan keuntungan duniawi saja. Jadilah olahraga sebagai ajang permainan yang melalaikan hingga umat terlena dan abai terhadap masalah krusial negara seperti kemiskinan, kurang gizi dan lain sebagainya. 

Islam juga akan menjadikan olahraga sebagai wasiqlah mewujudkan kebugaran tubuh dan persiapan Jihad. Jenis olahraga yang  dilakukan adalah yang terkait keduanya, misalnya berenang, berkuda, memanah, jalan kaki, lari, dan bela diri. Namun, olahraga tersebut dilakukan bukan untuk olahraga itu sendiri sehingga tidak untuk diperlombakan ataupun menjadi ajang kontestasi, tontonan, dan bisnis yang terkomersil.

Berita Terkait

Ayat Suci
Buruh Pabrik
Daun Malam
Sepasang Telinga
Konflik Batin
Dialog Tuhan
Menaikkan Minat Siswa Tentang Matematika
Rinai Kerinduan

Berita Terkait

Kamis, 13 Juni 2024 - 08:42 WIT

Ayat Suci

Sabtu, 16 Maret 2024 - 23:04 WIT

Buruh Pabrik

Kamis, 14 Maret 2024 - 18:21 WIT

Daun Malam

Minggu, 3 Maret 2024 - 11:03 WIT

Sepasang Telinga

Minggu, 3 Maret 2024 - 10:57 WIT

Konflik Batin

Sabtu, 17 Februari 2024 - 17:42 WIT

Dialog Tuhan

Jumat, 9 Februari 2024 - 15:49 WIT

Menaikkan Minat Siswa Tentang Matematika

Kamis, 8 Februari 2024 - 18:03 WIT

Rinai Kerinduan

Berita Terbaru

Imam dan Pihak Keamanan Usai Salat Idul Adha pada Sabtu 15 Juni 2024. (Rakyatmu)

Daerah

Tiga Desa di Kabupaten Pulau Taliabu Salat Idul Adha

Sabtu, 15 Jun 2024 - 17:15 WIT

Ruang Menulis

Ayat Suci

Kamis, 13 Jun 2024 - 08:42 WIT