Forum Adat Kesangajian Bicoli Dorong Perlindungan Lingkungan dan Kedaulatan Pangan

- Wartawan

Minggu, 25 Januari 2026 - 12:47 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Executive Director Fala Lamo, Jefferson Tasik, dalam pertemuan bersama masyarakat adat Bicoli. (Dok Save Halmahera)

Executive Director Fala Lamo, Jefferson Tasik, dalam pertemuan bersama masyarakat adat Bicoli. (Dok Save Halmahera)

RAKYATMU.COM – Di pesisir Halmahera Timur (Haltim), suara adat kembali bergema. Gelaran Forum Adat Kesangajian Bicoli II yang diinisiasi oleh LSM Fala Lamo bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan sebuah ikhtiar dalam menjaga ruang hidup.

Pertemuan akbar itu dipusatkan di Desa Bicoli, Kecamatan Maba Selatan, Halmahera Timur, Rabu (21/1/2026) malam. Dari ruang adat itulah lahir sebuah tekad: melindungi lingkungan sekaligus memastikan kedaulatan pangan tetap berpijak pada kearifan lokal.

Tarian Cakalele menyambut kedatangan Sultan Tidore, Husain Sjah dalam Forum Adat Kesangajian Bicoli. (Dok Rakyatmu.com)

Executive Director Fala Lamo, Jefferson Tasik, dalam pertemuan bersama masyarakat adat Bicoli mengungkapkan kondisi lingkungan di Maba Selatan saat ini. Termasuk prospek ketahanan pangan ke depan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam survei perikanan dan pertanian yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir, ditemukan fakta bahwa masyarakat di Maba Selatan masih bergantung pada pasokan pangan dari luar. Padahal, keberadaan lahan hingga sumber daya alam sangat luas.

Menurut Jefferson, persoalan utama bukan hanya soal ekonomi. Tapi juga nutrisi dan keberlangsungan pangan masyarakat.

“Kita melihat bagaimana hasil tangkapan nelayan dari waktu ke waktu, keberadaan mangrove, terumbu karang, hingga sagu sebagai makanan lokal. Semua itu terkait langsung dengan ketahanan pangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa desa masih sangat bergantung pada sagu. Namun lahan sagu semakin berkurang akibat gagal panen, termasuk praktik pindah ladang.

“Ada yang sekali tanam sudah bongkar hutan, pindah lagi. Karena dianggap tanah yang ada di sini itu tidak begitu baik,” katanya.

Selain itu, pembalakan hutan untuk kayunya dijual ke pihak luar menimbulkan tekanan pada lahan. Hal ini juga turut berdampak pada kualitas perairan sungai.

“Selain pembalakan hutan untuk kayunya dijual ke luar. Jadi tekanan dari lahan berpindah-pindah, dia berpengaruh pada kondisi perairan sungai itu,” katanya.

Executive Director Fala Lamo, Jefferson Tasik, dalam pertemuan bersama masyarakat adat Bicoli. (Dok. Save Halmahera)

Jefferson juga menyinggung ancaman tambang. Meski belum masuk ke Bicoli, aktivitas tambang di wilayah lain sudah memengaruhi kualitas air. “Tiga tahun lalu air di Bicoli masih jernih, sekarang mulai cokelat,” katanya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Jefferson menekankan pentingnya peran lembaga adat dalam mengatur dan melindungi hutan, sungai, pesisir, dan pulau kecil.

Bagi Jeferson, forum adat di Kesultanan Tidore, khususnya Bicoli, menjadi contoh tata kelola berbasis adat. Forum ini telah berlangsung dua kali dan diharapkan menjadi contoh bagi Sangaji lain.

“Karena lingkungan tidak berdiri sendiri, semua bergantung pada manusia. Karena itu, lembaga adat harus hadir untuk mengatur dan melindungi wilayah hukum adatnya,” tegasnya.

BACA JUGA :  Sultan Ternate: Pengakuan Negara Atas Hak Masyarakat Adat Belum Terwujud

Dalam menyusun strategi untuk penguatan ruang pangan berbasis komunitas masyarakat adat, Fala Lamo mendorong tiga hal. Pertama, penguatan sistem pangan lokal agar masyarakat tidak bergantung pada pasokan luar.

Kedua, gerakan perlindungan ekosistem sagu, mangrove, dan terumbu karang. Ketiga, memonitoring stok ikan yang untuk mengetahui potensi perikanan di Maba Selatan.

Jefferson menilai, Bicoli dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengembangkan tata kelola berbasis adat. “Forum adat ini penting, karena dari sinilah lahir aturan dan kesepakatan baru untuk menjaga lingkungan dan pangan masyarakat,” ujarnya.

Selain pangan, survei satwa dan ekosistem laut yang dilakukan Fala Lamo di wilayah Maba Selatan juga menemukan sejumlah persoalan serius. Terutama soal keberlanjutan sumber daya alam.

Dari hasil survei, kata Jefferson, tercatat 20 jenis burung dan tumbuhan. Tapi empat burung jenis paruh bengkok di antaranya masuk dalam kategori rentan hingga terancam punah.

“Burung Kasturi Ternate berstatus rentan, Kakatua Putih berstatus genting dan terancam punah, sementara Gagak Halmahera serta Elang Alang juga menghadapi ancaman,” paparnya.

Fala Lamo juga melakukan survei geofisika untuk perlindungan laut. Hasilnya menunjukkan kerusakan di sejumlah titik, seperti Pulau Kasuari, karang Sei, dan Pulau Woto. Kondisi ini berdampak langsung pada keragaman ikan.

“Kalau jalur makan ikan sudah berubah, nelayan harus mencari (ikan) semakin jauh. Itu tanda ekosistem laut terganggu,” kata Jefferson.

Pesisir pantai wilayah Ubli di Maba Selatan, Halmahera Timur. (Dok Rakyatmu.com)

Selain itu, wilayah Maba Selatan juga dikenal kaya akan lobster, terutama pada periode Juli–Agustus ketika jumlahnya meningkat signifikan. Namun, potensi ini harus dijaga agar tidak dieksploitasi secara berlebihan.

Jefferson pun menekankan pentingnya peran masyarakat adat, khususnya Kapita Lao (laut) dalam mengatur dan melindungi perairan adat dari pihak luar.

Selain itu, terdapat potensi bakau endemik Halmahera yang juga perlu dilestarikan. “Semua ini tujuannya agar masyarakat adat betul-betul menata dan mengatur sumber daya alam yang ada,” katanya.

Jefferson menilai, penguatan peran adat sangat penting, meski tidak lagi sama seperti dulu. Peran Bobato dan Kapita harus kembali ditegaskan kedudukan dan fungsinya dalam menjaga sumber daya alam.

Ia mencontohkan, Kesangajian Bicoli sebagai wilayah yang bisa menjadi teladan dalam tata kelola berbasis adat. “Tambang mungkin hanya bertahan satu dua tahun, tetapi kalau bicara sumber daya alam, itu berkelanjutan untuk anak cucu ke depan,” tegasnya.

Sementara itu, Iskandar dari Wildlife Conservation Society (WCS), menjelaskan perairan Patani, Bicoli, hingga Pulau Sayafi masuk dalam kawasan perlindungan laut. Kawasan ini bukan hanya ruang ekologi, tapi juga ruang hidup masyarakat adat yang diwariskan turun-temurun.

BACA JUGA :  Wali Kota Ternate Siap Rombak Kabinet Andalan Besar-besaran
Iskandar dari Wildlife Conservation Society (WCS) saat memaparkan materinya dalam Forum Adat Kesangajian Bicoli II. (Dok Save Halmahera)

Menurutnya, pengelolaan kawasan konservasi harus berbasis kearifan lokal yang telah lama dipraktikkan masyarakat. “Orang tua kita dulu sudah punya tanda-tanda alam,” katanya.

“Kalau lihat tanda tertentu, ikan naik. Kalau tidak ada, jangan dulu melaut. Semua pergerakan bulan memengaruhi kehidupan di bumi, termasuk di laut,” tambahnya.

Menurut Iskandar, laut di kawasan pelestarian Patani, Bicoli, dan Sayafi adalah ruang hidup adat. Di sana masyarakat mencari makan, belajar nilai adat, dan menyiapkan masa depan anak cucu.

Karena itu, lanjut dia, kawasan perlindungan laut dibuat bukan untuk mengambil hak masyarakat adat, melainkan untuk memastikan laut tetap hidup dan memberi manfaat jangka panjang.

Ia menekankan, konservasi laut bertujuan menjaga keberadaan ikan. Tanpa aturan, mustahil masyarakat bisa menikmati hasil laut yang lebih baik.

“Kalau ada yang menangkap ikan dengan cara merusak, maka akan ada sanksi adat. Itu harus sama-sama dihormati dan dihargai,” kata Iskandar.

Bagi Iskandar, pengelolaan berbasis adat akan lebih efektif karena masyarakat sudah terbiasa membaca tanda alam dan siklus bulan. Dengan cara ini, masyarakat adat dapat menata laut sesuai tradisi, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.

Sangaji Bicoli, Samaun Seba, juga menegaskan pentingnya pemberdayaan masyarakat adat melalui konsep yang dikembangkan bersama Fala Lamo. Program tersebut mencakup pertanian, perikanan, dan kelautan.

Sangaji Bicoli, Samaun Seba saat melantik perangkat adat Kesangajian Bicoli. (Dok Save Halmahera)

“Dalam beberapa tahun belakangan ini saya didampingi teman-teman dari Fala Lamo. Mereka punya konsep bagaimana memperdayakan masyarakat Kesangajian Bicoli. Tapi yang menjadi kendala soal adat dan budaya, saya selaku Sangaji juga kewalahan,” ujar Samaun.

Menurutnya, tantangan utama adalah menyatukan pemahaman antar generasi. Generasi tua maupun muda sebenarnya mengetahui nilai adat, namun sulit untuk menyatukan pandangan. “Di satu sisi, perangkat adat itu sangat terbatas,” katanya.

Samaun menilai kolaborasi dengan pemerintah sangat penting, apalagi banyak pejabat daerah berasal dari Maba Selatan. “Bupati anak kampung, orang Gotowasi, camat juga anak kampung, kepala-kepala dinas juga anak kampung, apalagi kepala desa. Tentu harus ada kolaborasi,” ujarnya.

Ia menekankan, bahwa wilayah Kesangajian Bicoli kaya dengan hasil laut dan memiliki potensi ekonomi. Tradisi leluhur seperti mencari ikan, bertanam, hingga memanfaatkan pala hutan menjadi sumber penghidupan yang bernilai besar.

Samaun pun menaruh harapan besar pada generasi muda. “Sudah pasti saya juga mengharapkan peran pemuda. Ketika anak-anak muda sudah bisa berpikir di situ, saya dukung dan siap menemani mereka,” tegasnya.

Sultan Tidore Husain Sjah didampingi Sangaji Bicoli Samaun Seba (kiri) bersama Jojau Kesultanan Tidore, Ishak Naser (kanan) saat melantik perangkat adat Kesangajian Bicoli. (Dok Save Halmahera)

Sebelumnya, Forum Adat Sangadji Bicoli juga pernah digelar di Balai Desa Wayamli, Kecamatan Maba Tengah, Halmahera Timur, pada 27 hingga 28 Desember 2024.

Gelaran itu terselengara atas peran LSM Fala Lamo, yang sejak beberapa tahun terakhir bersama warga memetakan potensi wilayah perikanan hingga sosial budaya di daerah Bicoli dan sekitarnya.

Penulis : Olis

Editor : Olis

Berita Terkait

Lingkar Tambang Taliabu Terbakar: ADT dan BMI Harus Bertanggung Jawab atau Pergi
Jaga Kebersihan Kota, DLH Ternate Rutin Bersih Kali Mati
Pupuk Organik 346,6 Ton Tiba di Pulau Taliabu
Koordinator Penggalangan Dana Taliabu Serahkan Bantuan Bagi Warga Terdampak Kebakaran
Pemkot Ternate dan Kemenhub Bahas Tahap Akhir Hibah Tiga Pelabuhan
Sekda Rizal Marsaoly Pantau Pra TKA di SMA Negeri 8 Ternate
BP2RD Kota Ternate Hapus Denda PBB Sebanyak 20 Ribu WP
Silaturahmi Kepala Diskop UKM Ternate Bersama Pegawai dan Warga

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:11 WIT

Lingkar Tambang Taliabu Terbakar: ADT dan BMI Harus Bertanggung Jawab atau Pergi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 15:18 WIT

Jaga Kebersihan Kota, DLH Ternate Rutin Bersih Kali Mati

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:09 WIT

Pupuk Organik 346,6 Ton Tiba di Pulau Taliabu

Jumat, 9 Oktober 2026 - 16:58 WIT

Koordinator Penggalangan Dana Taliabu Serahkan Bantuan Bagi Warga Terdampak Kebakaran

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:05 WIT

Pemkot Ternate dan Kemenhub Bahas Tahap Akhir Hibah Tiga Pelabuhan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:26 WIT

BP2RD Kota Ternate Hapus Denda PBB Sebanyak 20 Ribu WP

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:14 WIT

Silaturahmi Kepala Diskop UKM Ternate Bersama Pegawai dan Warga

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:24 WIT

Pemkab Taliabu Bersama Polres Percepat Pemanfaatan IKD Bagi Anggota dan Keluarga

Berita Terbaru

Barangka di Kelurahan Soa Sio, Kota Ternate. (RakyatMu)

Ragam Berita

Jaga Kebersihan Kota, DLH Ternate Rutin Bersih Kali Mati

Sabtu, 10 Okt 2026 - 15:18 WIT

pupuk organik dari Kementerian Pertanian tiba di Pelabuhan Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu. (RakyatMu)

Daerah

Pupuk Organik 346,6 Ton Tiba di Pulau Taliabu

Jumat, 9 Okt 2026 - 17:09 WIT