Ini Hasil Kajian UI Terkait Penanganan Air Limpasan di Kawasi

- Wartawan

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:23 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, melakukan pemantauan langsung kegiatan proteksi lingkungan di Obi

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, melakukan pemantauan langsung kegiatan proteksi lingkungan di Obi

RAKYATMU.COM – Di wilayah tambang, operasional yang bertanggung jawab dan berkelanjutan sangat ditentukan oleh pengelolaan sumber daya paling mendasar adalah air.

Di Desa Kawasi, Halmahera Selatan, mata air menjadi sumber utama kehidupan masyarakat. Pada saat yang sama, kawasan ini berada berdekatan dengan aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel yang terus berkembang.

Dalam konteks ini, pengelolaan air tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut keseimbangan antara kebutuhan industri dan keberlanjutan lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Tri Edhi Budhi Soesilo, menegaskan bahwa keberlanjutan sumber air sangat bergantung pada cara manusia mengelola lingkungan.

“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ujar Budhi dalam rilis Harita Nickel yang diterima rakyatmu.com pada Selasa (31/3/2026).

Mata air Kawasi secara hidrogeologis berasal dari akuifer dangkal di kawasan hutan dan dataran tinggi Obi bagian timur. Dalam observasi lapangan pada Juni 2025, Budhi mencatat sejumlah upaya pelestarian telah dilakukan.

BACA JUGA :  Kemenag Kota Ternate Larangan Kampanye di Rumah Ibadah, Amir: Tempat Orang Sakit Efek Pesta Demokrasi

Upaya tersebut meliputi perlindungan daerah tangkapan air, pembangunan jaringan distribusi ke permukiman, hingga pelibatan masyarakat dalam pengelolaan.

Menurut Budhi, pengelolaan air harus berbasis pada prinsip neraca air, yakni keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan. Ketersediaan ini ditopang oleh berbagai sumber, seperti curah hujan, sungai, dan mata air, serta kemampuan ekosistem menyimpan air melalui tutupan vegetasi.

“Boleh jadi, recharge sebenarnya cukup, tetapi karena perilaku manusia yang merusak lingkungan sekitar sumber air, airnya berkurang,” kata Budhi.

Ia juga menilai jalur mata air Kawasi tidak beririsan dengan sistem pengelolaan sedimentasi tambang, sehingga relatif terlindungi dari dampak operasional. Pemanfaatan air pun dipisahkan, dengan mata air digunakan untuk kebutuhan masyarakat, sementara operasional industri memanfaatkan air permukaan dari Danau Karo dan tidak menggunakan air tanah.

Pengujian kualitas air dilakukan secara berkala melalui laboratorium independen. Hasil uji pada April 2025 menunjukkan sejumlah indikator berada dalam batas aman, antara lain pH sebesar 7,87, kandungan Chromium Hexavalent (Cr-VI) yang sangat rendah, serta kadar oksigen yang masih sesuai standar.

BACA JUGA :  Petani Binaan Harita Nickel di Halmahera Selatan Melakukan Panen Perdana

“Berbagai upaya pengelolaan air oleh perusahaan itu, menurut saya, sudah memadai,” ujar Budhi.

Bagi masyarakat Kawasi, indikator paling nyata dari pengelolaan air adalah pengalaman sehari-hari. Salah satu warga, Yulius Langkodi, menyampaikan bahwa kondisi air bersih saat ini tidak lagi menjadi kekhawatiran utama.

“Urusan air bersih sudah nyaman,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi penting, mengingat dalam banyak wilayah tambang, persoalan air justru menjadi sumber utama konflik.

Di Kawasi, air menjadi lebih dari sekadar sumber daya, dan menjadi tolok ukur apakah keseimbangan antara aktivitas industri dan kehidupan masyarakat dapat dipertahankan. Hingga saat ini, keseimbangan itu masih terjaga.  (**)

Penulis : Tim

Sumber Berita : Rilis

Berita Terkait

TPID Kota Tidore Kepulauan Gencar Pantau Harga Bapok dan Pastikan Stok Aman
TPID Kota Tidore Sidak Pasar Gosalaha Pastikan Stok Jelang Nataru Aman
Budiman L. Mayabubun Nakhodai DPC PDI-P Pulau Taliabu
Tingkatkan Literasi dan inklusi Keuangan, Bank Maluku Malut Sosialisasi GENCARKAN di Desa Kramat
Ketua Pemuda Desa Wayo Pulau Taliabu Minta Warga Jaga Kondusivitas Pasca PSU
PSU Pulau Taliabu, PDIP: Kemenangan CPM-Utuh di Atas 80 Persen
Jelang PSU Pulau Taliabu, Citra-Utu Imbau Warga Tak Terpancing Isu Negatif
Pemda Kepulauan Sula Cuek Harga dan Ketersediaan Bapok Jelang Idul Fitri 1446 H 

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 19:23 WIT

Ini Hasil Kajian UI Terkait Penanganan Air Limpasan di Kawasi

Rabu, 17 Desember 2025 - 14:41 WIT

TPID Kota Tidore Kepulauan Gencar Pantau Harga Bapok dan Pastikan Stok Aman

Rabu, 17 Desember 2025 - 00:30 WIT

TPID Kota Tidore Sidak Pasar Gosalaha Pastikan Stok Jelang Nataru Aman

Kamis, 11 Desember 2025 - 21:52 WIT

Budiman L. Mayabubun Nakhodai DPC PDI-P Pulau Taliabu

Rabu, 28 Mei 2025 - 22:47 WIT

Tingkatkan Literasi dan inklusi Keuangan, Bank Maluku Malut Sosialisasi GENCARKAN di Desa Kramat

Kamis, 10 April 2025 - 09:11 WIT

Ketua Pemuda Desa Wayo Pulau Taliabu Minta Warga Jaga Kondusivitas Pasca PSU

Jumat, 4 April 2025 - 18:57 WIT

PSU Pulau Taliabu, PDIP: Kemenangan CPM-Utuh di Atas 80 Persen

Rabu, 26 Maret 2025 - 17:23 WIT

Jelang PSU Pulau Taliabu, Citra-Utu Imbau Warga Tak Terpancing Isu Negatif

Berita Terbaru

Seorang pekerja mengenakan masker melintas di depan Puskesmas Lelilef, Weda Tengah, Halmahera Tengah. Foto: Nurkholis Lamaau

Daerah

Ketika Ribuan Kasus ISPA Tiba – Tiba Hilang

Senin, 23 Mar 2026 - 23:26 WIT