Dari Lahan ke Tanah Suci: Cerita Warga Soligi di Balik Pembangunan Bandara

- Wartawan

Jumat, 24 April 2026 - 16:47 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ade Ahmad menggunakan uang hasil penjualan lahan untuk biaya haji, yang dijadwalkan berangkat pada 2028, digunakan juga untuk membangun rumah dan simpanan untuk anak. (Harita Nickel)

Ade Ahmad menggunakan uang hasil penjualan lahan untuk biaya haji, yang dijadwalkan berangkat pada 2028, digunakan juga untuk membangun rumah dan simpanan untuk anak. (Harita Nickel)

RAKYATMU.COM – Di Desa Soligi, Pulau Obi, harapan tentang masa depan itu kini diterjemahkan dalam satu bayangan sederhana: bandara yang lebih dekat, akses yang lebih mudah, dan peluang yang lebih terbuka.

Bagi Ade Ahmad (48), harapan itu dimulai dari keputusan melepas lahannya untuk proyek pembangunan bandara. “Saya menjual lahan karena mendukung pembangunan bandara, yang kami harapkan bisa membuka peluang usaha,” ujarnya.

Dari hasil penjualan lahannya, ia gunakan untuk membangun rumah, menyiapkan biaya ibadah haji, dan menabung untuk masa depan anak. “Manfaatnya besar buat saya. Insya Allah saya berangkat haji tahun 2028,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi Ade, pembebasan lahan bukan sekadar transaksi, melainkan bagian dari ikhtiar memperbaiki kehidupan. Ia meyakini, kehadiran bandara akan membawa perubahan nyata bagi warga.

“Dengan adanya bandara, kehidupan masyarakat bisa lebih baik. Nanti ke mana-mana jadi lebih dekat,” ujarnya sambil tersenyum.

Pandangan serupa disampaikan Siti Aminah (52). Lahan yang dulu dikelola almarhum suaminya akhirnya dilepas untuk pembangunan bandara. Meski sempat ragu, ia melihat keputusan itu sebagai bagian dari harapan bersama warga.

BACA JUGA :  Hebat, Bupati Halmahera Selatan Sediakan Kapal Gratis dan Melunasi Biaya Haji 5 CJH 

“Perusahaan datang menawarkan, tapi kalau kami tidak mau jual, tidak ada paksaan. Jadi ini karena kesepakatan,” katanya.

Ia mengakui awalnya tidak ingin melepas kebun yang ditanami langsat, durian, dan cengkeh. Namun, rencana pembangunan bandara membuatnya mempertimbangkan manfaat jangka panjang. “Kami berharap desa bisa lebih maju dan masyarakat lebih sejahtera,” ujarnya.

Hasil penjualan lahan itu ia gunakan untuk membangun rumah dan membuka kios.

Pengalaman warga Soligi itu memberi gambaran lain di tengah narasi yang kerap menyebut pembebasan lahan tidak transparan atau bahkan penyerobotan. Bagi Ade dan Siti, keputusan menjual lahan lahir dari proses yang mereka pahami dan setujui.

Pengalaman serupa disampaikan warga Desa Kawasi. Nur Eneng Rahmat (33), yang beberapa kali melakukan pembebasan lahan, menyebut prosesnya berlangsung terbuka sejak awal.

“Sebelum pembebasan, tim perusahaan datang menjelaskan. Lahan diukur bersama pemilik yang berbatasan, lalu harga dinegosiasikan sampai sepakat,” ujarnya.

Dari hasil penjualan lahannya itu, ia mengembangkan usaha kos-kosan yang kini menjadi sumber penghasilan. “Menurut saya ini bukan ganti rugi, tapi ganti untung,” katanya.

Sementara itu, Madina Jouronga (55) memanfaatkan hasil penjualan lahannya untuk membeli speed boat yang kini menjadi usaha utama keluarganya. “Saya jual karena mereka mau beli dan saya juga mau jual,” ujarnya.

BACA JUGA :  Wali Kota Ternate Didampingi Sekda Kunjungi Pameran UMKM di Musrenbang

Rangkaian pengalaman warga ini menunjukkan bahwa proses pembebasan lahan tidak berlangsung dalam satu arah, melainkan melalui interaksi dan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Hal itu juga disampaikan pihak perusahaan. Land Data Management & Advocacy Manager Harita Nickel, Ary Pratama, menjelaskan bahwa setiap proses diawali dengan sosialisasi kepada pemilik lahan, dilanjutkan pengukuran bersama, serta pendataan aset sebelum penentuan nilai dilakukan.

“Seluruh tahapan dilakukan secara terbuka dan melibatkan pihak terkait, sehingga masyarakat memahami proses dan nilai yang disepakati,” ujarnya.

Menurut Ary, prinsip utama yang dijalankan adalah memastikan proses berlangsung adil dan dapat diterima kedua belah pihak. “Kesepakatan menjadi dasar dalam setiap pembebasan lahan,” katanya.

Bagi warga Soligi dan Kawasi, pembebasan lahan pada akhirnya bukan sekadar perpindahan kepemilikan. Ia menjadi titik temu antara pilihan dan harapan: tentang bagaimana lahan yang dilepas hari ini membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan. (**)

Sumber Berita : Rilis

Berita Terkait

Kebun Hortikultura Jadi Ruang Kemandirian Perempuan di Pulau Obi 
Harita Nickel Pererat Kebersamaan dengan Masyarakat Lingkar Tambang lewat Safari Ramadan
Sekda Kota Ternate Jemput Nur Ainun Ratu Azzahra Juara 2 Grand Model Miss Toddler Indonesia 
PNM Perluas Pemberdayaan Perempuan Prasejahtera di Maluku Utara lewat Mekaar
Perkuat Harmoni Kehidupan Berjemaat, Wabup Halsel Resmikan Kompleks Gereja GPM Kawasi
Naik Status Jadi Bank Maluku-Malut Cabang Bobong: Dorong Pembangunan Ekonomi
Dinsos Kota Ternate Hadirkan Fasilitas Lewat Halaman Resmi, Cek Disini
Kota Ternate Raih Penghargaan Skrining Bayi Baru Lahir Terbaik Tingkat Nasional

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 21:36 WIT

Kebun Hortikultura Jadi Ruang Kemandirian Perempuan di Pulau Obi 

Jumat, 24 April 2026 - 16:47 WIT

Dari Lahan ke Tanah Suci: Cerita Warga Soligi di Balik Pembangunan Bandara

Jumat, 20 Maret 2026 - 15:07 WIT

Harita Nickel Pererat Kebersamaan dengan Masyarakat Lingkar Tambang lewat Safari Ramadan

Minggu, 8 Februari 2026 - 13:12 WIT

Sekda Kota Ternate Jemput Nur Ainun Ratu Azzahra Juara 2 Grand Model Miss Toddler Indonesia 

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:00 WIT

PNM Perluas Pemberdayaan Perempuan Prasejahtera di Maluku Utara lewat Mekaar

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:53 WIT

Perkuat Harmoni Kehidupan Berjemaat, Wabup Halsel Resmikan Kompleks Gereja GPM Kawasi

Rabu, 17 Desember 2025 - 15:47 WIT

Naik Status Jadi Bank Maluku-Malut Cabang Bobong: Dorong Pembangunan Ekonomi

Minggu, 14 Desember 2025 - 21:44 WIT

Dinsos Kota Ternate Hadirkan Fasilitas Lewat Halaman Resmi, Cek Disini

Berita Terbaru

Kepala BP2RD Kota Ternate, Mochtar Hasim. (Rakyatmu/Istimewa)

Daerah

Genjot PAD, BP2RD Kota Ternate Bidik BUMN 

Senin, 8 Jun 2026 - 23:10 WIT

Ruang Menulis

Waris Pundak, Waris Tanah

Kamis, 4 Jun 2026 - 14:06 WIT

DPRD Kota Ternate dan Pemerintah Bahas Reviu Finalisasi Ranperda RTRW. (Istimewa)

Daerah

DPRD dan Pemkot Ternate Bahas DIM dalam Revisi RTRW

Kamis, 4 Jun 2026 - 01:10 WIT