Rinai Kerinduan

- Wartawan

Kamis, 8 Februari 2024 - 18:03 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Faturrahman Duwila

(Sanggar Sau)

Sang mentari mengawasi dari atas sana. Motor-motor memadati sisi jalan masuk Pelabuhan Ahmad Yani. Bau laut tercium, namun aromanya sudah bercampur dengan limbah. Aku melangkah di jalan penuh debu, menuju ruang tunggu pelabuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aku melirik jam di Handphone. Sedikit kesal karena sudah tiga puluh menit berlalu, orang yang ku tunggu belum juga datang. Sementara, suasana semakin ramai menandakan kapal hendak lepas landas. Ada yang baru berdatangan untuk membeli tiket, ada pula yang baru datang ke Kota Ternate. Aku sendiri memutuskan untuk membayar tiket di kapal, kemudian janjian dengan seseorang untuk berdagang. Langit Ternate kian berawan, berbarengan dengan petir yang saling bersahut-sahutan. Tampaknya akan turun hujan, namun kenapa orang itu belum datang?

BACA JUGA :  Membangun Kota Ternate, Menjaga Khasanah Kie Raha ‘26 Tahun Pemkot Ternate’

Aku berdiri, memutuskan pergi ke kapal KM. Permata Obi, baru saja akan beranjak pergi, tiba-tiba mata bulat dan senyum lebarnya muncul di hadapan ku. Tubuhnya yang dibalut kaos hitam Dengan gambar Bob Marley, celana gomrangnya yang sobek-sobek, serta kakinya yang beralaskan sepatu Converse. Seolah-olah menegaskan bahwa dompet dari karung goni yang kujual, dibeli oleh orang yang tepat.

“Hai brader.” Gadis itu menyapaku. Kami berjabat tangan kemudian kembali duduk. “Maaf yah, jalanan di Bastiong agak macet,” Jelasnya. Ah, macet. Sebuah argumen, yang sudah explaer untuk dijadikan alasan. Aku tersenyum. “Enggak apa-apa.” Melihat parasnya yang harus kuakui cukup manis, rasa kesalku entah hilang ke mana.

Namanya Nur. Meski sudah beberapa kali bertukar pesan di layar handphone, ini adalah kali pertama kami bertemu. Aku kemudian mengeluarkan barang pesanannya dari dalam tas. Sebuah dompet yang kami produksi dari karung goni bekas, secara independen. Nur berniat membeli Dompet ini setelah melihat postinganku di Instagram. Gadis itu membolak-balik dompet di tangannya. Ia mengamati pesanannya, gambar tangan yang diikat dengan latar polos. “keren juga,” katanya. “Kamu yang ngedesain?”

BACA JUGA :  Sekolah Bukan Kola

“Bukan aku. Benda itu dibuat oleh Sanggar Sau, sanggar kami,” tuturku. Matanya berbening-bening, seakan-akan merasa tidak percaya. Iya, Nur pun sudah mengetahui tentang komunitas dari Sula yang kutekuni. “Ouh, jadi kalian membuatnya. Unik juga yah.”

Aku merasa kagum. Menghadirkan sebuah dompet dari alat-alat seadanya, jadi harus mandiri. Walaupun aku tak pernah ikut serta dalam proses pembuatan dompet, tapi tentu saja aku juga berpartisipasi dalam kegiatan berniaga. (**)

Berita Terkait

DPRD Kuat, Rakyat Berdaulat
Memudarnya Kharismatik di Era Postrush
Dugaan Keterlibatan Oknum Plt. Kepala Dinas Kepulauan Sula dalam Korupsi BTT Sula
Citra Kejari Sula Dipertaruhkan dalam Kasus Korupsi BTT
Proyek Strategis, Derita Sistematis
Akar Kemiskinan Nelayan Postradisional
Nelayan Dalam Pusaran Perubahan Ekologi
Dari Barta Caceres Sampai Hutan Mangoli; Ikhtiar Pesona Pulau Kecil

Berita Terkait

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:17 WIT

DPRD Kuat, Rakyat Berdaulat

Rabu, 26 November 2025 - 13:12 WIT

Memudarnya Kharismatik di Era Postrush

Kamis, 6 November 2025 - 18:52 WIT

Dugaan Keterlibatan Oknum Plt. Kepala Dinas Kepulauan Sula dalam Korupsi BTT Sula

Selasa, 21 Oktober 2025 - 10:52 WIT

Citra Kejari Sula Dipertaruhkan dalam Kasus Korupsi BTT

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 15:27 WIT

Proyek Strategis, Derita Sistematis

Senin, 15 September 2025 - 10:06 WIT

Akar Kemiskinan Nelayan Postradisional

Kamis, 11 September 2025 - 19:50 WIT

Nelayan Dalam Pusaran Perubahan Ekologi

Senin, 14 Juli 2025 - 15:02 WIT

Dari Barta Caceres Sampai Hutan Mangoli; Ikhtiar Pesona Pulau Kecil

Berita Terbaru