Waris Pundak, Waris Tanah

- Wartawan

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:06 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Faturrahman Duwila

(Pemuda Sula)

Kabong kelapa, cengkih dan pala warisan para tetua di kaki gunung adalah sebuah kerajaan hijau yang mahaluas. Di sana, pohon-pohon tua menjulang seperti raksasa yang menjaga rahasia bumi.  Pohon-pohon itu adalah tiang terkuat di dunia yang tidak akan pernah roboh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bertahun-tahun kemudian, tiang itu perlahan rapuh, sementara dunia di luar kabong tumbuh menjadi monster yang serakah.

Nikel dan batuan berharga ditemukan di balik lapisan tanah gunung mereka. Korporasi pertambangan raksasa datang membawa alat-alat berat, menggusur paksa bukit-bukit hijau, dan mengubah aliran sungai menjadi kubangan lumpur merah kehitaman. Satu per satu tetangga menyerah, menjual kabong mereka demi tumpukan uang kertas. Namun, Papa bertahan seperti batu karang.

Banggala, yang baru saja kembali dari kota, pulang dan mendapati kabong mereka telah dikepung oleh kawat berduri dan kepulan asap hitam dari pabrik pengolahan tambang di kaki bukit.

Suatu sore, ketegangan pecah. Alat berat milik perusahaan tambang mencoba menerobos batas tanah milik Papa. Dengan tubuhnya yang sudah ringkih dan rambut yang memutih seluruhnya, Papa berdiri tegak di depan moncong ekskavator besi yang dingin.

“Langkah kaki kalian hanya akan melewati mayat saya! Tanah ini bukan untuk dihancurkan!” teriak Papa, suaranya parau, melayang di antara deru mesin.

Banggala yang berlari menyusul ke kebun menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Papa didorong kasar oleh para petugas keamanan sewaan perusahaan hingga jatuh tersungkur di atas tanah berbatu. Dahinya terluka, berdarah, dan kakinya yang memang sudah lemah akibat usia tua terdengar berbunyi klik yang menyakitkan.

Banggala menjerit, menerjang kerumunan, dan mendekap tubuh ringkih Papa yang kotor oleh tanah merah. Saat banggala mengangkat Papa ke dalam pelukannya, dia menangis sejadi-jadinya. Tubuh Papa terasa begitu ringan dan rapuh. Bahu yang dulu mengangkat Banggala setinggi langit, kini melengkung tak berdaya, bergetar menahan sakit.

BACA JUGA :  Harapan dan Luka

Di dalam tenda darurat, rumah sakit darurat kampung, Papa menggenggam erat kemeja Banggala dengan sisa tenaganya yang kian habis. Air mata menetes dari sudut mata tua yang mulai meraba itu.

“Banggala… maafkan Papa,” bisik Papa, suaranya nyaris hilang. “Pundak Papa… sudah tidak kuat lagi menahan besi-besi mereka. Papa gagal menjaga langit kita…”

“Tidak, Pa! Papa tidak pernah gagal!” tangis Banggala pecah, dadanya sesak luar biasa melihat pahlawannya terkulai tak berdaya.

Keesokan harinya, seolah mendapat kekuatan baru dari luka sang ayah, Banggala berdiri di garis depan. Dia tidak lagi mengenakan kemeja rapi seorang sarjana di kota. Dia memakai baju kaos lusuh milik Papanya, mengikat kepalanya dengan kain merah, dan membawa tumpukan berkas hukum pidana serta sertifikat tanah adat.

Ketika buldoser perusahaan kembali bergerak maju untuk meratakan pohon-pohon cengkih tua yang ditanam oleh kakek buyutnya, Banggala berdiri tegak di titik persis di mana Papa terjatuh kemarin. Di belakangnya, puluhan warga kampung yang tergerak oleh keberanian Papa ikut merapatkan barisan.

“Hentikan mesin kalian!” teriak Banggala lantang, mengangkat tinggi-tinggi surat tuntutan hukum dan analisis dampak lingkungan. “Saya adalah Banggala, anak dari lelaki yang kemarin kalian aniaya! Atas nama hukum, atas nama hak adat, dan atas nama setiap tetes keringat ayah saya yang menyatu dengan tanah ini, saya nyatakan kalian ilegal!”

Suara Banggala menggema, bergetar penuh emosi, membawa kemarahan sekaligus rasa cinta yang mendalam pada tanah airnya. Berbulan-bulan setelahnya menjadi laga perjuangan yang melelahkan. Banggala tidak tidur, menghabiskan malam di bawah temaram lampu kabong, menyusun gugatan, menghadapi intimidasi aparat, hingga bersidang di pengadilan distrik. Setiap kali dia merasa lelah dan ingin menyerah, dia selalu menatap memar di bahu Papa yang kini harus duduk di kursi roda.

BACA JUGA :  Kriminalitas Marak di Kalangan Mahasiswa

Satu tahun perjuangan berdarah-darah itu akhirnya membuahkan hasil. Pengadilan memutuskan membekukan izin eksplorasi perusahaan tambang di wilayah adat mereka. Kabong mereka selamat.

Sore itu, Banggala mendorong kursi roda Papa ke bagian tertinggi di kebun mereka. Udara di kabong itu masih terasa segar, kontras dengan wilayah seberang bukit yang telah gundul. Matahari senja perlahan turun, menyiram pucuk-pucuk pohon cengkih dengan warna emas yang magis.

Banggala mengambil posisi berlutut di samping kursi roda Papa, lalu menyandarkan kepalanya di lutut sang ayah, persis seperti yang sering ia lakukan saat lelah bernyanyi sewaktu kecil.

Papa mengelus rambut Banggala dengan tangan kanannya yang gemetar. Air mata bahagia mengalir di pipi keriputnya. “Kamu berhasil, Nak. Kamu menyelamatkan kabong kita. Kamu mengusir raksasa besi itu.”

Banggala menggenggam tangan tua yang kasar itu, menciumnya dengan takzim. “Banggala tidak berdiri sendiri, Pa. Saat Banggala berdiri menghadapi buldoser-buldoser itu, Banggala merasa… Banggala sedang berdiri di atas pundak Papa. Pundak Papa yang memberi Banggala keberanian untuk menatap langit dan memperjuangkannya.”

Di bawah langit sore yang bersih tanpa polusi tambang, bintang pertama mulai muncul memancarkan cahayanya yang abadi. Pundak Papa mungkin telah rapuh dimakan usia dan kejamnya dunia, namun nilai-nilai yang ia tanamkan dari atas pundak itu kini telah tumbuh menjadi pohon pembela alam yang paling kokoh di dalam diri Banggala. (**)

Berita Terkait

Menatap Langit dari Pundak Papa
DPRD Kuat, Rakyat Berdaulat
Memudarnya Kharismatik di Era Postrush
Dugaan Keterlibatan Oknum Plt. Kepala Dinas Kepulauan Sula dalam Korupsi BTT Sula
Citra Kejari Sula Dipertaruhkan dalam Kasus Korupsi BTT
Proyek Strategis, Derita Sistematis
Akar Kemiskinan Nelayan Postradisional
Nelayan Dalam Pusaran Perubahan Ekologi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 14:06 WIT

Waris Pundak, Waris Tanah

Selasa, 19 Mei 2026 - 09:10 WIT

Menatap Langit dari Pundak Papa

Selasa, 9 Desember 2025 - 10:17 WIT

DPRD Kuat, Rakyat Berdaulat

Rabu, 26 November 2025 - 13:12 WIT

Memudarnya Kharismatik di Era Postrush

Kamis, 6 November 2025 - 18:52 WIT

Dugaan Keterlibatan Oknum Plt. Kepala Dinas Kepulauan Sula dalam Korupsi BTT Sula

Selasa, 21 Oktober 2025 - 10:52 WIT

Citra Kejari Sula Dipertaruhkan dalam Kasus Korupsi BTT

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 15:27 WIT

Proyek Strategis, Derita Sistematis

Senin, 15 September 2025 - 10:06 WIT

Akar Kemiskinan Nelayan Postradisional

Berita Terbaru

Ruang Menulis

Waris Pundak, Waris Tanah

Kamis, 4 Jun 2026 - 14:06 WIT