Ketua Komisi II DPR: Sofifi Tak Perlu Jadi Kota, Cukup Benahi Wajahnya

- Wartawan

Rabu, 30 Juli 2025 - 07:47 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan antara Presidium Rakyat Tidore bersama Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda di ruang lobby Bela Hotel, Ternate. (Dok. Istimewa)

Pertemuan antara Presidium Rakyat Tidore bersama Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda di ruang lobby Bela Hotel, Ternate. (Dok. Istimewa)

RAKYATMU.COM – Komisi II DPR RI menilai peningkatan status Sofifi menjadi kota bukan solusi. Sebab, yang lebih mendesak saat ini adalah pembenahan infrastruktur agar Sofifi sebagai wajah Ibu Kota Provinsi Maluku Utara (Malut) lebih layak dan representatif

“Jadi saya minta tolong, kita dukung sama-sama Sofifi agar infrastrukturnya juga dibangun,” ujar Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda dalam dialog bersama Presidium Rakyat Tidore, Selasa (29/7/2025).

Rifqinizamy menyambut hangat kehadiran Presidium Rakyat Tidore dalam dialog terbuka di lobby Bela Hotel di Kelurahan Jati, Ternate Selatan, Kota Ternate, Selasa (29/7) malam. Pertemuan itu menjadi wadah penting untuk menyerap aspirasi terkait wacana pemekaran Sofifi menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, pemerintah pusat kini lebih berhati-hati menyikapi usulan DOB, termasuk Sofifi. Karena pengalaman pemekaran DOB di Indonesia selama ini menunjukkan tidak semua berjalan sukses, bahkan sebagian menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.

“Karena kita juga melihat DOB selama ini yang terjadi di Indonesia tidak semua berhasil, banyak juga yang menimbulkan persoalan sensitif. Jadi saya kira harapan dari Kesultanan Tidore kami paham,” katanya.

“Sebelum ini, kami juga sudah ketemu dengan Pak Mendagri (Tito Karnavian) terkait hal ini,” ucap Rifqinizamy menambahkan.

Rifqinizamy juga menilai, tidak ada ketentuan dalam undang-undang tentang pemerintahan daerah yang mewajibkan ibu kota provinsi harus berstatus kota. “Enggak ada, enggak ada sebetulnya,” tandasnya.

“(Persoalan ini) terjadi setidaknya di tiga tempat. Sofifi untuk Maluku Utara, Tanjung Selor itu di satu kecamatan, lebih tinggi sedikit (dari kelurahan) di Kalimantan Utara, (kemudian) Manokwari itu kabupaten,” paparnya.

BACA JUGA :  Sekda Kota Ternate Serahkan Armada Sampah ke Kecamatan

“Kan kalau minta kota, harusnya dirubah jadi kota juga. Artinya, ada Kabupaten Manokwari, ada Kota Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua,” ucap Rifqinizamy.

Lebih lanjut Rifqinizamy menuturkan, pembangunan Ibu Kota Provinsi Malut tetap dapat dilakukan melalui skema anggaran yang tersedia. “Karena kan ada tiga skema anggarannya ya, APBN, APBD provinsi, dan APBD kota,” katanya.

Bagi Rifqinizamy, ini merupakan konsekuensi langsung dari penunjukkan Sofifi sebagai ibu kota Pronvisi Maluku Utara, melalui Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999. Itu berarti, status kelurahan tak jadi persoalan.

“Jadi walau pun levelnya mungkin hanya kelurahan, tapi sebagai konsekuensi dari penunjukkan oleh Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999, wajah Sofifi kita benahi,” terangnya.

Rifqinizamy juga meminta penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah induk terkait penganggaran. Jika itu berjalan optimal, ia bersedia menjadi guarantor atau penjamin dalam upaya percepatan pembangunan Sofifi.

“Jadi minta tolong ke wali kota juga agar porsi anggaran dikasih lebih lah. Kalau itu nanti bisa terlihat secara jelas, saya bisa jadi guarantor. Enggak perlulah (Sofifi dimekarkan menjadi DOB), ngapain, kotanya juga bagus,” tuturnya.

“Karena skema lain kayak daerah khusus, enggak ada, yang ada kita cuma bisa treatment melalui anggaran kayak Tanjung Selor, itu kan ada bandaranya, yang bangun (pemerintah) kabupaten,” jelasnya.

Terkait bandara, jika kebutuhan anggaran berkisar Rp 30 miliar, Pemkot Tidore Kepulauan bisa mengalokasikan Rp 5 miliar. Setidaknya ini menunjukkan keseriusan dalam mendorong konektivitas antar wilayah.

“(Kemudian nanti) diminta provinsi Rp 20 M atau Rp 15 M, sisanya pusat (lewan APBN), sehingga kemudian kita juga menunjukkan ada upaya sungguh-sungguh untuk menjaga maklumat sultan pada satu sisi,” katanya.

BACA JUGA :  Dinkes Ternate Prioritaskan Pelayanan Masyarakat Ditengah Keterbatasan Anggaran

Rifqinizamy mengaku sempat menanyakan posisi dan keinginan Gubernur Sherly terkait wacana DOB Sofifi. Ketika ditanya secara tegas apakah dirinya bersikeras agar Sofifi menjadi kota, Shery menjawab dengan nada terbuka.

“Kalau saya tanya bu Sherly kemarin, saya bilang ibu posisinya seperti apa? Kalau saya tanya hitam-putih yah, ibu apakah ngotot (Sofifi) harus kota? (Sherly jawab) ‘oh enggak pak, kalau saya enggak ada masalah. Cuman memang konsekuensi dari kota itu kan harapannya punya APBD sendiri yah,” tutur Rifqinizamy meniru ucapan Sherly.

“Berarti ini kan persoalan anggaran. Nah berarti jalan tengahnya kalau saya boleh menyimpulkan, yang penting kita bisa pastikan Kota Tidore itu punya keberpihakan anggaran ke Sofifi, selain kami yang di APBN,” imbuh Rifqinizamy.

Sementara itu, Koordinator Presidium Rakyat Tidore, Jaenudin Saleh menyebut pertemuan bersama Ketua Komisi II DPR Rifqinizamy Karsayuda merupakan momentum strategis, untuk membahas percepatan pembangunan di kawasan Ibu Kota Provinsi Malut.

“Bagi kami, pertemuan tadi malam adalah momentum penting untuk berdiskusi terkait percepatan pembangunan di kawasan Ibu Kota Provinsi Maluku Utara yang berkedudukan di Sofifi,” ujar Jaenudin kepada Rakyatmu.com, Rabu (30/7).

Presidium menilai, pembangunan Sofifi tidak harus bergantung pada perubahan status administratif menjadi DOB. Sebaliknya, mereka mendorong agar pemerintah pusat dan daerah memprioritaskan penataan infrastuktur, pelayanan publik, dan penguatan identitas wilayah sebagai ibu kota provinsi.

“Sikap kami ini jelas mencerminkan semangat kolaboratif antara masyarakat adat dan pemerintah dalam menjaga keutuhan wilayah Tidore, sekaligus memastikan Sofifi berkembang sesuai amanat undang-undang dan aspirasi lokal,” pungkas Jaenudin.

Berita Terkait

Pemkot Ternate Resmi Luncurkan Logo Rakernas XII JKPI 2026, Usung Semangat ‘Ternate Episentrum Rempah Dunia’
HUT Bhayangkara ke-80 di Pulau Taliabu, Kapolres Tekankan Kualitas SDM
Sambut HUT RI ke-81, Pemkot Ternate Bebaskan Denda PBB Selama Tiga Bulan
BP2RD dan BPRS Bahari Berkesan Ternate Percepatan Digitalisasi: Bayar Pajak dan Retribusi Tanpa Harus Tunai
Pemda Taliabu Ajak Warga Seho dan Kano Dukung Program TFCCA Semank Maluku Utara
Pemkot Ternate Akan Siapkan Pembayaran Pajak dan Retribusi Secara Digital
RM di PUPR Kota Ternate, Sekda Tekankan Bangun Budaya Disiplin untuk Masyarakat
Diskop UKM Kota Ternate Perkuat Pembinaan Melalui Program ‘Kamis Menyapa Koperasi’

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:52 WIT

Pemkot Ternate Resmi Luncurkan Logo Rakernas XII JKPI 2026, Usung Semangat ‘Ternate Episentrum Rempah Dunia’

Rabu, 1 Juli 2026 - 15:34 WIT

HUT Bhayangkara ke-80 di Pulau Taliabu, Kapolres Tekankan Kualitas SDM

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:54 WIT

Sambut HUT RI ke-81, Pemkot Ternate Bebaskan Denda PBB Selama Tiga Bulan

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:22 WIT

Pemda Taliabu Ajak Warga Seho dan Kano Dukung Program TFCCA Semank Maluku Utara

Sabtu, 20 Juni 2026 - 01:05 WIT

Pemkot Ternate Akan Siapkan Pembayaran Pajak dan Retribusi Secara Digital

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:28 WIT

RM di PUPR Kota Ternate, Sekda Tekankan Bangun Budaya Disiplin untuk Masyarakat

Senin, 15 Juni 2026 - 14:18 WIT

Diskop UKM Kota Ternate Perkuat Pembinaan Melalui Program ‘Kamis Menyapa Koperasi’

Senin, 15 Juni 2026 - 13:33 WIT

Diskop UKM Kota Ternate Perkuat KKMP dan Program Prioritas Wali Kota

Berita Terbaru