Faturrahman Duwila
Bagi Banggala yang berusia tujuh tahun. Kabong, kebun murni warisan leluhur di kaki gunung adalah sebuah rimba yang raksasa. Pohon-pohon kenari kuno menjulang seperti raksasa hijau, dan semak belukar berteduh di bawahnya. Di antara rimbunnya daun dan aroma tanah basah, Banggala kecil sering kali merasa tersesat. Namun, ketakutan itu selalu hilang setiap kali tangan kekar Papa mengangkat tubuhnya, mendudukkannya dengan nyaman di atas dua bahu yang kokoh.
“Lihat ke atas, Banggala. Apa yang kamu lihat?” tanya Papa, suaranya berat berbaur dengan nyanyian burung jantan di dahan tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Daun-daun besar, Pa! Dan langit biru di sela-selanya,” jawab Banggala riang, tangan kecilnya mencengkeram erat pundak Papa yang bidang.
Dari atas pundak Papa, pandangan Banggala melompati batas-batas semak. Dia bisa melihat betapa luasnya kabong mereka. Papa tidak hanya mengajarkannya nama-nama pohon, tetapi juga mengajarkan cara membaca alam.
“Tanah ini hidup, Banggala,” ujar Papa sambil melangkah pelan menembus semak-semak. “Pohon-pohon ini yang menjaga air kita tetap mengalir, yang mengikat tanah agar gunung tidak longsor menghantam kampung. Menjaga kabong ini berarti menjaga langit agar tetap menurunkan hujan yang baik untuk kita.”
Banggala kecil mengangguk-angguk, merasakan ketenangan yang luar biasa. Di atas pundak Papa, dia merasa menjadi penjaga hutan yang paling tinggi.
Dua puluh tahun berlalu, dunia di sekitar mereka bergerak serakah. Kota mulai merayap naik ke kaki gunung. Banyak tetangga yang mulai menjual kabong mereka kepada perusahaan pengembang untuk dijadikan vila atau lahan tambang pasir besih atau timah. Uang instan yang ditawarkan sangat menggiurkan.
Banggala, yang kini telah menyelesaikan kuliahnya di kota, pulang dengan membawa kegelisahan. Dia melihat Papa yang kini telah menua, rambutnya memutih, dan jalannya mulai lambat karena cedera lutut akibat bertahun-tahun merawat tanah.
Suatu malam, seorang perwakilan perusahan datang ke rumah mereka, menyodorkan koper berisi uang untuk membeli kabong Papa. Angkanya cukup untuk membuat mereka hidup mewah di kota. Banggala sempat bermanuver dalam pikirannya “uang itu bisa membelikan Papa rumah yang nyaman tanpa perlu memeras keringat lagi di kebun.”
Namun, Papa menggeleng tegas. “Kabong ini tidak dijual. Jika kami menjualnya, kami menjual napas anak cucu kami,” usir Papa dengan suara bergetar namun penuh wibawa.
Malam itu, setelah orang asing itu pergi, Banggala duduk bersama Papa di teras rumah. “Pa, bukankah hidup Papa akan lebih mudah jika kita menerima tawaran itu? Pundak Papa sudah tidak sekuat dulu untuk mencangkul dan merawat kabong yang luas itu,” ujar Banggala jujur.
Papa tersenyum tipis, lalu mengajak Banggala berjalan ke arah kabong di bawah temaram sinar bulan. Langkah Papa kini diseret, tak lagi sekuat dulu.
” Banggala, coba kamu berdiri di sini,” Papa menunjuk sebuah batu besar di tengah kebun.
Banggala berdiri di atas batu itu, menatap hamparan pohon kelapa, pala, dan cengkih yang meliuk ditiup angin malam. Di atas mereka, langit bertabur bintang tampak begitu bersih tanpa polusi kota.
“Ketika kamu kecil, Papa mengangkatmu di pundak agar kamu bisa melihat betapa indahnya alam ini dari atas,” ucap Papa, berdiri di samping Banggala sambil menatap langit. “Papa ingin kamu tahu bahwa ada hal yang jauh lebih berharga daripada tumpukan uang, yaitu warisan alam yang tetap lestari. Jika kabong ini hancur, langit yang bersih ini akan tertutup asap, dan tanah tempat kita berpijak akan mati.”
Banggala tertegun. Dia menatap wajah Papa yang dipenuhi gurat keriput. Dia baru menyadari bahwa selama ini, kekuatan Papa menjaga kabong dari keserakahan industri adalah bentuk pengorbanan terbesar. Papa mengorbankan masa tuanya yang tenang demi memastikan Banggala dan generasi setelahnya masih bisa menghirup udara segar dan meminum air bersih dari gunung. Pundak Papa yang kini membungkuk adalah akibat dari beban berat menjaga benteng alam terakhir mereka.
Keesokan harinya, Banggala bangun sebelum matahari terbit. Dia tidak lagi mengenakan pakaian kotanya. Dia berjalan tampa mengenakan alas kaki, memegang parang, dan berjalan menuju kabong.
Papa yang sedang menyeduh kopi di dapur tertegun melihat anaknya. Banggala berjalan mendekati Papa, lalu menggenggam tangan tua yang kasar itu.
“Papa sudah lelah menjaga kabong ini sendirian. Sekarang, giliran pundak Banggala yang akan melanjutkan tugas Papa,” kata Banggala mantap. ” Banggala akan jaga tanah ini, Pa. Banggala tidak akan membiarkan satu pohon pun tumbang oleh traktor.”
Papa tidak berkata apa-apa, namun sepasang matanya berkaca-kaca. Dia menepuk pundak Banggala yang kini telah tumbuh lebar dan kuat, pundak baru yang siap memikul tanggung jawab menjaga alam, warisan sejati dari seorang ayah. (**)












