Cerita Kekerasan hingga Pesan dan Harapan 11 Warga Maba Sangaji

- Wartawan

Rabu, 20 Agustus 2025 - 21:55 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

11 orang warga adat Maba Sangaji di Pengadilan Negeri Soasio, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. (Dok. Rakyatmu.com)

11 orang warga adat Maba Sangaji di Pengadilan Negeri Soasio, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. (Dok. Rakyatmu.com)

RAKYATMU.COM – Sidang lanjutan terhadap 11 warga Maba Sangaji, Halmahera Timur, Maluku Utara yang menjadi terdakwa dalam kasus penolakan perusahaan tambang nikel PT Position kembali digelar. Dalam kesempatan itu, terucap sederet pesan, harapan, hingga kekerasan yang mereka alami.

“Kami dipukul, diinjak, dan diborgol. Sudah naik di oto (mobil), tapi dorang (mereka – polisi) tambah tendang dan pukul lagi,” ucap Sahrudin Awat, salah satu terdakwa, Rabu (20/8/2025).

Peristiwa itu dilontarkan oleh Sahrudin usai sidang dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Negeri Soasio, Kota Tidore Kepulauan. Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Asma Fandun, serta hakim anggota Cristopher Surya Salim dan Muhammad Ardhymas Lazuardi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengakuan yang sama juga dilontarkan oleh Alauddin Salamudin. Ia secara tegas menyebut tetap berjuang mempertahankan ruang hidup yang tersisa, meski nyawa menjadi taruhan.

“Walau kami diinjak-injak, ditodong dengan senjata, bahkan dipukul sampai (tubuh) kami keluarkan darah, kami tetap akan berjuang untuk membela tanah adat kami, membela ruang hidup kami,” tegasnya.

BACA JUGA :  Desak Bebaskan 11 Warga Adat Maba Sangaji, LCI: Mereka Penyelamat Ruang Hidup

“Kami tidak akan rela walau pun kami ini mati, tetap kami akan perjuangan kami punya ruang hidup itu,” tambah Alauddin dengan mata berkaca-kaca.

Senada diungkapkan oleh Indrasani Ilham. Menurutnya, sejak sidang bergulir, terdapat beberapa fakta di lapangan yang disembunyikan oleh saksi dari pihak perusahaan.

“Beberapa kesaksian sangat merugikan kami dan mengaburkan fakta. Padahal kami dari (awalnya) 27 orang, tidak pernah melakukan sedikit pun ancaman. Kami sendiri yang mengalami kekerasan oleh pihak kepolisian,” tuturnya.

Sementara, Jamaluddin Badi berharap keputusan pengadilan bisa berpihak pada kepentingan masyarakat adat, agar menjadi pijakan hukum yang lebih luas, sehingga menjadi preseden bagi warga di wilayah lain dalam memperjuangkan haknya.

“Harapannya, perjuangan hari ini yang digiring ke pengadilan itu bisa menjadi satu semangat yang merangkul semua orang untuk membela tanah dan airnya,” tambah Jamaluddin.

BACA JUGA :  Diduga Proyek Fiktif, Praktisi Hukum Desak Kejari Sula Tetapkan Jainudin Sebagai Tersangka

Hamim Djamal juga menegaskan, perjuangan warga Maba Sangaji yang awalnya berjumlah 27 orang bukan soal harga tanah. Tapi berangkat dari kesadaran atas ruang hidup yang tersisa.

Perjuangan ini bukan soal harga tanah per meter berapa dan macam-macam, tapi ini murni kesadaran torang (kami) untuk menjaga ruang hidup, tanah adat, yang selama ini kasih hidup kitorang,” tegas Hamim.

Senada diungkapkan Sahil Abubakar. Bagi dia, meskipun tindakan mereka dilabeli aksi premanisme, tapi apa yang diperjuangkan hari ini murni soal keberlanjutan ruang hidup dan masa depan generasi.

“Perjuangan kami betul-betul tumbuh atas kesadaran kami sebagai masyarakat adat dan juga masyarakat Maba Sangaji untuk mempertahankan tanah, hutan, gunung, yang selama ini cukup berhubungan dengan kami secara ekonomi, bahkan di dimensi lain adalah soal keyakinan spiritualitas. Jadi apa yang kami perjuangan ini adalah perjuangan untuk generasi selanjutnya,” imbuh Sahil.

Penulis : Tim

Berita Terkait

KPK Diminta Usut Penyelundupan BBM hingga Dugaan Pemotongan Fee Proyek di PLN UP3 Ternate
Polisi Diminta Usut Dugaan Kesengajaan Kebakaran Limbah Ban Bekas di PT IWIP
PT HSM Diduga Suap Oknum Dinas ESDM Maluku Utara Rp10 Miliar
Apakah Limbah Ban Bekas Terbakar di PT IWIP Ada Unsur Kesengajaan?
PT IWIP Halmahera Tengah Diduga Sengaja Bakar Tumpukan Ban Bekas
AKBP Rona Buha Tua Tambunan Diangkat Jadi Kapolres Halmahera Timur
Mutasi di Polda Malut: Wakapolda, Dirreskrimsus hingga Kapores Haltim Berganti
Kejari dan Inspektorat Sula ‘Doyan’ Kasus Kecil di Desa Pohea: Warga Diperiksa dari Tahun 2021 hingga 2026

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 16:01 WIT

KPK Diminta Usut Penyelundupan BBM hingga Dugaan Pemotongan Fee Proyek di PLN UP3 Ternate

Selasa, 1 September 2026 - 14:56 WIT

Polisi Diminta Usut Dugaan Kesengajaan Kebakaran Limbah Ban Bekas di PT IWIP

Senin, 31 Agustus 2026 - 21:51 WIT

Apakah Limbah Ban Bekas Terbakar di PT IWIP Ada Unsur Kesengajaan?

Senin, 31 Agustus 2026 - 14:17 WIT

PT IWIP Halmahera Tengah Diduga Sengaja Bakar Tumpukan Ban Bekas

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:52 WIT

AKBP Rona Buha Tua Tambunan Diangkat Jadi Kapolres Halmahera Timur

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:14 WIT

Mutasi di Polda Malut: Wakapolda, Dirreskrimsus hingga Kapores Haltim Berganti

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:43 WIT

Kejari dan Inspektorat Sula ‘Doyan’ Kasus Kecil di Desa Pohea: Warga Diperiksa dari Tahun 2021 hingga 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:42 WIT

Polisi Geledah Kantor DPMD dan Inspektorat Taliabu Terkait Kasus Dugaan Korupsi DD

Berita Terbaru